Perjalanan Saya Menghafal Al-Qur'an
"Jika melihat latar belakang saya, mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa saya akhirnya memilih jalan yang dekat dengan dunia Al-Qur'an. Saya lahir dan tumbuh dalam lingkungan pendidikan umum. Dari SD hingga SMA, saya tidak pernah mondok ataupun belajar di lembaga tahfidz. Bahkan ketika lulus SMA, hafalan saya masih sangat terbatas. Surat-surat pendek dari Adh-Dhuha hingga An-Nas saja belum benar-benar kuat di ingatan. Setelah lulus SMA, saya melanjutkan pendidikan ke jurusan Teknik Industri di salah satu perguruan tinggi di Padang. Meskipun pada akhirnya perkuliahan tersebut tidak saya selesaikan hingga lulus, masa itu menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan hidup saya. Di sanalah saya mulai tertarik untuk mempelajari agama Islam lebih serius dan mengenal manhaj salaf sedikit demi sedikit. Awalnya saya banyak mendengarkan kajian-kajian yang disampaikan oleh Ustadz Khalid Basalamah hafizhahullah. Melalui kajian tersebut, Allah membuka pintu ketertarikan saya terhadap ilmu syar'i. Tidak lama kemudian, Allah mempertemukan saya dengan salah seorang senior di Teknik yang lebih dahulu mengenal manhaj salaf. Beliau sering mengajak saya menghadiri kajian yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Elvi Syam hafizhahullah di Padang. Dari situlah semangat untuk belajar agama semakin tumbuh dan semakin kuat. Pada tahun 2017, Allah memberikan kesempatan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saat itu dibuka program beasiswa Kuliah Tahfidz Al-Qur'an di salah satu ma'had di Kota Padang. Saya memberanikan diri untuk mendaftar, meskipun kemampuan membaca Al-Qur'an dan hafalan saya saat itu masih jauh dari kata baik. Perjalanan menghafal Al-Qur'an saya tidak dimulai dengan hafalan, melainkan dengan tahsin. Saya harus memperbaiki bacaan terlebih dahulu, belajar mengenali kesalahan-kesalahan yang selama ini tidak saya sadari, lalu berusaha memperbaikinya sedikit demi sedikit. Proses itu tidak selalu mudah, tetapi justru di situlah saya belajar bahwa hasil yang besar lahir dari kesabaran dan konsistensi dalam langkah-langkah kecil. Seiring berjalannya waktu, Allah memudahkan saya untuk mulai menghafal Al-Qur'an. Dari proses belajar tersebut, saya kemudian mendapatkan kesempatan untuk mengajar anak-anak, bapak-bapak, serta menjadi imam masjid di lingkungan masyarakat. Semakin banyak mengajar, semakin saya menyadari bahwa belajar dan mengajarkan Al-Qur'an adalah perjalanan yang tidak pernah selesai. Pada tahun 2022, saya memutuskan untuk pindah ke Duri, mengikuti domisili keluarga istri. Di sana saya bergabung dengan Yayasan Baitulhuda Duri sebagai pengajar Al-Qur'an di SDIT Alhuda dan Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur'an Alhuda untuk jenjang SMP dan SMA. Hingga hari ini, saya masih terus belajar, mengajar, dan berusaha mengambil bagian dalam pengembangan pendidikan Al-Qur'an serta kurikulum pendidikan Islam. Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai. Saya bukan berasal dari pesantren, bukan pula lulusan lembaga tahfidz sejak kecil. Namun ketika seseorang bersungguh-sungguh dan memohon pertolongan kepada Allah, selalu ada jalan untuk belajar, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat kepada orang lain.".